Site Meter

Wednesday, March 9, 2011

Reborn, Rebirth, Rebird

Suatu hari, terlihat sebuah sarang burung kecil dengan beberapa telur di dalamnya. Telur - telur mungil itu sudah dibuahi dan tampak siap untuk menetas. Masing - masing telur tentu berharap bisa menetas dengan baik dan lekas terbang ke angkasa tinggi.

Getaran - getaran kecil sudah mulai terlihat! Perlahan tapi pasti, satu per satu telur burung itu mulai menetas, meretakkan cangkang telur sedikit demi sedikit. Suara menciap - ciap yang lucu pun mulai terdengar bersahut - sahutan. Burung - burung kecil yang lucu telah lahir!

Tapi, apa yang terjadi? Ada sebuah telur yang tak kunjung menetas. Ada apa ini? Telur ini padahal ingin sekali retak seperti saudara - saudaranya yang lain. Bisa menetas sudah jadi telur itu selama ini. Tapi dia tak sanggup. Ia tak mampu menciap seperti yang lain. Ia mencoba dan mencoba, namun tak kunjung membuahkan hasil yang berarti.

Lalu, apa yang dilakukan induknya? Ia mendatangi telur kecil itu, mengamat-amati nya sebentar, lalu menendang telur itu, jatuh dari sarangnya yang tinggi! Hati telur itu seperti menangis, betapa tega ibunya sendiri membuangnya. Di atas jalan tempat ia jatuh, telur itu sudah 3/4 mati, sampai lewat seseorang yang berjalan dan menginjaknya. Pecah. Telur itu akhirnya menetas bukan? Menetas dan hilang tanpa kenangan. Hanya sakit sebentar, dan hilang.

Di lain hari, kumpulan anak - anak burung yang sedang bertumbuh, bersama dengan induknya, pergi ke satu tempat yang tinggi sekali. Anak - anak burung yang tidak tahu apa - apa, mengikut saja dengan senang sambil berjalan, melompat - lompat. Sampailah mereka di puncak tempat itu, tempat dimana hanya langit dan jurang luas saja yang terlihat. 

Burung - burung itu belum selesai memandangi tempat itu sebelum tiba - tiba paruh si induk mendorong satu per satu anak - anak burung tersebut ke jurang. Mereka menciap - ciap tanda tak mengerti, mereka berada di tengah kebingungan harus bagaimana. Sampai akhirnya insting hewan mereka membuat mereka mulai mengepak - ngepakkan sayap mereka. Satu per satu burung mulai terbang perlahan, tidak jatuh lagi. Bersamaan dengan itu ada impian baru, yaitu mengarungi langit biru yang belum mereka kenal.

Tapi, apa yang terjadi? Ada seekor burung kecil yang terus terjatuh, tidak bisa terbang seperti yang lain. Ia menciap - ciap sambil berusaha mengerti bagaimana saudara - saudaranya bisa terbang seperti itu. Ia mengepak - ngepakkan sayapnya sekuat tenaga, tapi tak ada perbedaan. Instingnya mati. Ia memanggil induknya,tapi seakan - akan ibu burung tak peduli padanya. Ia pun terus jatuh, menyerah pada keadaan, menangisi hidup yang ternyata memberi defisiensi dan cacat pada sayap kecilnya, sayap yang seharusnya membawanya mengarungi angkasa. Ia pun berakhir mati, jatuh di atas bebatuan di pinggir aliran sungai. Tubuhnya terbawa arus sungai. Entah kemana, terlupakan.

...

Wah, musim migrasi tiba! Para burung dan induknya yang masih tersisa, sedang bersiap - siap untuk pindah ke tempat lain yang lebih hangat. Mereka sedang menyiapkan diri untuk terbang, tanpa menyadari adanya pemburu yang mengintai dari semak - semak dekat pohon tempat sarang mereka. 

Saat mereka akan terbang, dengan harapan mendapat kehidupan yang lebih baik bersama, dengan lebih banyak makanan di tempat baru, sebuah desingan peluru terdengar begitu cepat. Para burung pun terbang kabur, tak lagi bermimpi yang aneh - aneh di waktu yang genting seperti itu. Yang penting mereka selamat dulu.

Tidak sampai beberapa detik sampai tempat itu kosong, tanpa seekor burung pun yang tersisa. Kecuali satu burung. Si induk, masih berdiri dengan tatapan kosong. Tubuh burung itu mulai miring, dan jatuh tanpa gerakan apa - apa. Ia sudah mati beberapa saat lalu ketika sebuah timah panas melewati kepalanya dalam hitungan tak sampai 1 detik. Tidak tampak seekorpun dari anak - anak burung, yang dia lahirkan, yang datang menolongnya. Ia hanya tergeletak begitu saja, tanpa guna. Tidak berguna, karena si pemburu pun merasa si induk terlalu kecil bahkan untuk disantap dirinya sendiri.

Burung - burung lain yang berhasil kabur melanjutkan perjalanan. Di langit biru yang terbentang begitu luas, mereka terus melaju bersama angin.Sebuah lambang dan arti konotatif untuk kebebasan absolut, dimana mereka bisa membuat jalan hidup mereka dengan kemungkinan tidak terbatas.

Lalu, tampak dari kejauhan, seekor rajawali yang melesat ke arah mereka. Oh! Terlihat sekali bagaimana cakar kuat itu berhasil mencengkeram 2 ekor burung sekaligus. 2 burung tersebut memanggil - manggil saudaranya, tapi mereka terus terbang, menyelamatkan diri sendiri. 2 burung yang tak beruntung itupun pasrah, dengan luka - luka cakaran yang cukup dalam, mereka dibawa ke sarang rajawali tersebut, rajawali yang merenggut masa depan mereka. Mereka sudah kosong, merasa tak perlu lagi mengucapkan kata - kata perpisahan sampai sebuah paruh kejam, datang menusuk, menghancurkan tubuh mereka. Tidak ada harapan. Tidak pernah datang keajaiban untuk mereka sampai detik - detik terakhir mereka melihat langit biru. Hanya realita pahit yang ada.

Tinggal sedikit burung yang tersisa di kawanan burung yang berhasil lolos. Mereka rasanya sudah tinggal sedikit lagi untuk sampai di tempat impian mereka. Uh, ada burung yang mulai lelah. Mereka memang sudah terbang beberapa lama. Kepakan sayap mereka sudah tak sestabil beberapa menit yang lalu. Namun, pimpinan kawanan migrasi itu tak bergeming dari posisinya untuk memberi istirahat untuk kawan nya. Akhirnya satu per satu burung itu tumbang, tak tahan dengan kondisi yang stagnan, tanpa perubahan lebih baik. Mereka jatuh, kehilangan tenaga untuk mengepakkan sayap mereka. Jatuh tanpa dipedulikan oleh "kawanan" burung yang tinggal sepasang. Mereka jatuh bersama keputusasaan, mungkin juga dengan beribu pertanyaan mengapa saudara - saudaranya, yang lahir dan tumbuh bersama - sama, tega membiarkan mereka, yang hanya meminta sedikit saja waktu untuk beristirahat. Pertanyaan - pertanyaan yang tak berguna terus berputar di kepala kecil burung - burung itu sampai sebuah truk tepat menghancurkan tubuh tak beradaya itu, tanpa sisa.

Tinggal sepasang burung yang akhirnya sampai di tempat tujuan, tempat dimana terdapat pohon - pohon rindang, cukup sumber air dan makanan, dan jauh dari hawa dingin. Phew, sebuah tempat yang begitu menjanjikan kehidupan lebih baik rupanya! 

Tibalah saat meletakkan telur - telur baru, di sarang baru, dan dengan harapan yang baru. Tak lama setelah sepasang burung itu memadu kasih, membuahi telur itu dengan sesuatu yang membawa kehidupan di masa mendatang, tampak batu terbang tepat mengenai burung - burung tersebut. Seorang anak kecil dengan riang memungut dua burung yang sudah tak bernyawa lagi. Kehidupan tidak sebaik yang mereka kira ternyata. Padahal, mereka sudah di sini, tempat jauh yang SEHARUSNYA AMAN, tempat yang SEHARUSNYA MELINDUNGI mereka. Sayang, tempat akhir mereka malah tempat sampah yang busuk.

Kini yang tersisa hanyalah telur - telur burung dalam sarang, yang masih polos, tak tahu apa - apa. Tiap - tiap telur merasa punya misteri tersendiri. Mereka bisa jadi apa saja dengan berbagai kemungkinan hidup. Dan kemungkinan untuk tidak hidup.

"Kakek..." tanya seorang anak kecil yang sedari tadi mendengar kakeknya bercerita tanpa putus.
"Andai saja kakek menjadi salah satu telur di sarang itu, Kakek mau jadi apa?" tanyanya polos.

"Entahlah..." jawab kakek itu. Ia berhenti sejenak, memandangi langit cerah di atasnya, sambil tiba - tiba tersenyum. Ia menjawab,

"Mungkin seekor burung saja"

No comments:

Post a Comment